Search
  • Shena Septiani

Kisah MiCROBOY, Cuti Kuliah Buahkan Prestasi Juara Dunia


Ma, saya coba untuk main gim ini ya. Soalnya saya percaya saya bakal juara di kompetisi ini.”“Jadi tolong diizinin, saya ingin cuti kuliah dulu, ingin coba fokus satu tahun ini. Gimana sih saya bakal bisa gak di esports ini. Soalnya kesempatannya cuma ini, Ma,” Ujar Nizar

Setelah sukses menjadi juara di gelaran PUBG Mobile Club Open (PCMO) 2019 di Malaysia pada awal Desember kemarin, disusul oleh DGL, dan kini mendominasi turnamen nasional pmpl, Bigetron Red Aliens jadi semakin disegani. Tak hanya di scene kompetitif PUBG lokal, tapi juga di ranah global.


Namun siapa sangka, di balik hingar bingar panggung untuk menjadi juara ternyata ada pengorbanan waktu, tenaga, dan pendidikan. Inilah yang dirasakan oleh Nizar “MiCROBOY” Lugatio Pratama. Nizar yang dikenal ceria dan superl memiliki kisah sendiri mengenai perjuangannya berkompetisi di ranah esports. Ia mengungkapkan, bahwa dirinya rela cuti kuliah demi keinginannya menjadi seorang atlet esports profesional. Langkah ini dapat terbilang berani mengingat esports masih dalam tahap berkembang di negara kita.


Bukan hanya tentang industrinya, namun juga tentang stigma yang ada di mata masyarakat Indonesia. Masih banyak yang beranggapan bahwa esports hanyalah ‘duduk-duduk main game’ meski dari namanya sendiri mengandung unsur sports, atau olahraga. Tak jarang juga orang yang lebih tua menganggap esports hanya membuang waktu dan tidak produktif.


Rupanya, hal tersebut tidak menghalangi semangat Nizar untuk mengejar mimpinya menjadi atlet profesional. Pria berusia 20 tahun yang pernah masuk ke dalam peringkat 10 besar leaderboard PUBG Mobile ini sadar bahwa kemampuannya dalam bermain bukan sembarangan.


Hanya bermodalkan keyakinan

sumber: Instagram @bigetronesports


Dengan modal keyakinan akan kemampuannya, Nizar memberanikan diri minta izin kepada Ibunya untuk cuti dari kuliah yang tengah jalan tiga semester di sebuah sekolah teknik kesehatan, Semarang. Meski awalnya sempat ragu, sang ibu akhirnya setuju dengan pilihan tersebut.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Nizar berhasil menunjukkan kepada orang tuanya bahwa keputusannya menjadi atlet esports profesional adalah pilihan tepat. Pencapaian Nizar bersama tiga rekannya di Bigerton Red Aliens berhasil membuat mereka membawa pulang USD 180.000 atau setara dengan Rp2.5 miliar dari gelaran PMCO 2019.


Meski dengan keberhasilan yang Ia raih, Nizar mengaku masih ragu akan prospek esports di indonesia. Ia merasa bahwa ekosistem esports di Indonesia belum mencapai tahap yang stabil bagi seseorang untuk berkomitmen penuh, apalagi untuk menjadi seorang atlet.


Ke depannya, Nizar berharap atlet esports bisa mendapat dukungan yang lebih besar, apalagi dari pihak pemerintah. Langkah-langkah yang konkret seperti kemudahan regulasi dalam mengikuti turnamen, serta ketersediaan fasilitas akan sangat membantu anak muda untuk meraih prestasi.


Penutup


Esports telah menciptakan jiwa kompetitif yang mendorong banyak individu seperti Nizar untuk bekerja keras agar dapat menjadi yang terbaik. Selain itu sebagai sebuah industri, esports telah mencapai angka multi-miliar dolar. Menurut Business Insider, jumlah nilainya akan mencapai nominal USD 1,5 miliar pada tahun 2023 nanti.


Hal ini dapat menjadi bukti bahwa kini bermain game bukanlah sekedar membuang-buang waktu. Dengan kerja keras dan kegigihan, esports dapat menghasilkan sesuatu yang bermanfaat. Tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk orang lain, dan negara.

152 views
  • Facebook
  • YouTube
  • Instagram

©2020 by Bigetron Esports.